(Source: jackdlh1, via mikyway-milkyway)

H-22 hari menuju wisuda.

Dalam 22 hari saya memiliki 2 proyek yang harus selesai, satu sebelum tanggal 5 April dan satunya sebelum tanggal 12 April.

Setelah 12 April, saya memiliki 1 proyek besar yang tertunda satu tahun. Lalu, minggu lalu ketika saya pulang ke rumah. Orang tua bertanya,"Mau tinggal dimana setelah lulus?"

Lagi-lagi saya bilang, di sini. Kota terdekat, Yogyakarta. Sekalian menyiapkan IELTS dan masih bekerja di Magno sekaligus mempersiapkan proposal untuk Master Degree.

Ingat sekali, dari 216 mahasiswa FSRD 2009, saya adalah satu-satunya yang berasal dari area Yogyakarta - Jateng. Kini, ketika lebih banyak teman-teman bermigrasi ke arah Jakarta dan menetap di Bandung.

Saya tidak punya apa-apa di Bandung. Saya pendatang. Bandung memang menyenangkan, tapi Bandung sudah terlalu penuh oleh pendatang. Terlalu sumpek oleh mobil plat luar kota yang memenuhi jalanan.

Meski ingin rasanya bisa shalat setiap hari di Masjid Salman, tapi Salman sudah terlalu makmur. Mungkin perlu memakmurkan masjid lain yang jauh, Bandung sudah penuh oleh orang-orang kreatif, menjadi magnet yang luar biasa bagi orang-orang otak kanan. Mungkin, perlu pergi jauh dari sana agar kreatifitas lebih merata.

Saya hanyalah pendatang dan Bandung yang menjadi rumah tinggal 5 tahun terakhir ini menyimpan banyak sekali kenangan. Mungkin memang bukan tempatku di sana. Meski hati ingin sekali tinggal di sana.

Jakarta, ibu kota yang menjanjikan materi yang katanya lebih baik. Tapi materi tidak pernah menjamin kualitas hidup. Tinggal di Bandung dan bisa ke Jakarta hanya dalam sehari kembali lagi membuat saya melihat Jakarta seperti tempat asing.

Jakarta sudah terlalu penuh, ia sendiri risih oleh para pendatang. Berusaha memoles dirinya secantik mungkin tapi apa daya, sulit. Ia risih dengan warga negaranya sendiri. Pemerintahnya berusaha menahan-nahan agar tidak banyak pendatang. Jakarta yang kebingungan.

Yogyakarta dan sekitarnya justru menarik hati saya, tentu saya tidak ingin tinggal di pusat Yogyakarta. Terlalu banyak distraksi. Sangat menyenangkan mendengarkan pagi dengan suara alam tanpa kendaraan bermotor. Tidak perlu buru-buru mandi pagi untuk pergi ke kantor, karena saya tidak suka bau kantor di gedung-gedung. Penuh ketegangan.

Tidak perlu rapi menggunakan jas dan dasi, sepatu licin mengkilap. Karena saya tidak suka berpakaian formal. Cara hidupku mungkin terlalu absurd, tidak banyak yang menganggapnya realistis. Ah sudahlah, saya tidak peduli kata orang.

Sepertinya akan sulit, dengan saya yang seperti ini. Menemukan teman hidup yang sejalan-seia sekata. Hidup di tengah-tengah keheningan. Tidak pusing-pusing memikirkan uang. Tidak mengukur kebahagiaan dengan banyak uang yang dimiliki dan barang apa yang dapat dibeli.

Tentu saja saya memiliki rencana, rencana hidup yang sangat dan mungkin terlalu detil dan hanya akan saya beritakan kepada dia yang bersedia menjadi teman hidup orang semacam ini.

Jakarta, biarlah ia hidup dalam kebingungannya.

Bandung, biarlah ia menjadi kenangan saja. Besok-besok saya akan bernostalgia di kota itu sesekali waktu. Menikmati liku jalannya. Menikmati setiap detik kenangan di setiap tempat selama menjadi mahasiswa.

Sebenarnya saya hanya bingung, dimana saya hendak membangun rumah permanen yang sudah saya rancang sejak lama ini #sambilnimang-nimanggambar.

Temanggung, 21 Maret 2014

Neither do I..
Seperti halnya saya yang nggak bisa move on dari Solo. Kata teman : Purworejo is home. But Solo is hometown. Entahlah nantinya akan dimana, hanya saja Jakarta bukan pilihan.

"Perlahan lahan menghilang dan menghilang. Sampai akhirnya sadar sekarang sudah tidak ada. Tapi nyatanya ia tak hilang.. Tetapi menjelma menjadi sesuatu yg melapisi diri. Menjadikan diri sosok yang lain, yang lebih kuat, ikhlas, dan sabar.. Karena memang sakit adalah hal yang harus disyukuri, bukan untuk diumpat atau melemahkan kita."

Open your eyes broader, gaes! :)

Well, mungkin akan ada yang berpikiran ini kolot dan ketinggalan jaman. Tapi ya memang ini yang jadi prinsip hidup sekarang. Setelah aku mengenal agamaku lebih jauh, menyelaminya.. Dan ternyata sangat indah.. :)

Aku resmi jadi pengangguran sejak 4 bulan yang lalu. Setelah meraih sarjana, sebagian besar temen-temanku melabeli diri mereka dengan job seeker. Termasuk teman-teman perempuanku. Malah sudah banyak yang merantau mengikuti pelatihan untuk menjadi kader yang akan menempati posisi tertentu di berbagai perbankan. Yah, memang untuk pekerjaan yang sesuai dengan jurusanku saat kuliah tidak begitu banyak. Bank salah satu yang jadi primadona. Siapa sih yang tak tergiur dengan jabatan yang bergengsi, gaji yang sangat layak, dan jadi orang kantoran.. Hehe.. Jawabannya : Aku!

Dulu aku juga berpikir begitu. Keberadaan ‘link’ tentu akan banyak memberi peluang untukku mendapatkan pekerjaan itu. Qodarullah.. Begitu mudah Allah membolak balikkan segalanya. Dan entahlah, sekarang yang terpikir bukan kemana saja aku harus “menjual diri” menyebarkan legalisir ijazah, transkrip, dan CV ke perusahaan-perusahaan. Bukan sibuk searching lowongan kerja dan wira-wiri interview sama assesor perusahaan. Tapi malah sibuk les bahasa inggris untuk cari beasiswa biar bisa dapet sekolah Master gratisan, sibuk les bahasa arab karna kepengen banget bisa baca kitab, sibuk ikut pendalaman tahsin biar baca qurannya bisa bener dan bagus, sibuk nambahin hafalan quran, sibuk cari-cari jadwal kajian, sibuk cari kursus bikin cake tapi belom nemu-nemu. Hahaha entahlah, sering kebayang, besok kalo punya anak harus ibunya sendiri yang ngajarin ngaji, ngajarin baca quran, ngajarin bahasa arab, nyontohin akhlaq Rasulullah sehari-harinya, bisa jadi cooking mom, bisa jadi guru buat anak sendiri… dll.. dll.. Hahaha. What a great mom, ya kan? :p

Tidak tau diri sekali memang. Semakin merasa tak tau diri ketika harus bersebrangan pendapat dengan orang-orang terdekat. Sebagian orangtua berharap selepas anaknya lulus sarjana bisa mendapatkan pekerjaan yang bergengsi dengan gaji yang banyak dan segera mandiri. Oh gaes.. Sebenarnya pun aku tak pernah menutup diri untuk bekerja. Aku juga ingin bekerja tapi bukan dengan sembarang pekerjaan. Aku punya prinsip untuk apa aku bekerja dan pekerjaan apa yang akan aku pilih dan jalani. Sekarangpun aku sedang berupaya untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang kupegang. Mungkin memang terkesan idealis dan keras kepala, tapi aku yakin aku tidak salah selama prinsip itu sejalan dengan aturan agama. Jadi, untuk apa aku dapat gaji banyak tapi aku jadi salah satu saksi transaksi riba, atau jadi yang ikut mengesahkan terjadinya riba, atau.. ah sudahlah, mau cari apa kalo banyak uang tapi dimurkai oleh Allah dan Rasulullah.. Mau cari apa kalo kerjaan bagus tapi harus menanggalkan pakaian syar’i yang sesuai aturan Allah. Mau cari apa kalo sukses di kantor tapi anak di rumah terbengkalai tak terurus. Mau cari apa gaes?

Teruslah berusaha dan menggapai cita-cita. Tentu cita-cita kita tak hanya jadi kaya dan hidup makmur, tapi lebih dari itu. Cita cita kita harus kebahagiaan di jannah kelak. Kejarlah dunia tanpa mengesampingkan aturan-aturan agama. Kejarlah dunia agar kehidupan kekal kita di akhirat lebih baik.

Tentang kamu..

Tentang kamu..

makemestfu:

EVERYTHING RELATE

catatanbesarku:

chadleymacguff:

waawaaa:

The Living Cube by Till Könneker

I moved into a apartment studio without storage room. So i made a minimalistic cube design with a shelf for my vinyl collection, my TV, Clothes and Shoes. On the cube is a guest bed and inside the cube is a lot of storage space. Remo from www.holzlaborbern.ch transferred my sketches very beautifully. My friend and Photographer Rob Lewis made this great photos. Info via Behance

what if you move though?

oh well..

Mauuuukkk

(Source: brain-food)

So cuteeee :3